Apa cita-cita saya?? Ketika saya 6 tahun,kehidupan saya sepenuhnya dikuasai oleh Voltus-V. Lima jagoan kartun yang punya robot keren berwarna merah-putih-biru. Cool banget mereka itu dimata saya, maka dari situ saya bercita-cita menjadi salah satu anggota dari Voltus-V. ketika ibu saya bertanya, “Cita-citamu apa nak?”, saya pun akan dengan sepenuh hati dan binar-binar di mata menjawab “Jadi anggota voltus-v ma”. Dan ibu saya akan mengernyitkan dahinya. Beliau sama sekali nggak tau apa itu voltus-v. maka responnya biasanya begini, “Udah ke gereja belum kamu minggu ini?”. Respon yang tidak coherent. Mungkin ibu saya mengira voltus-v adalah sekte sesat ato apalah, saya juga nggak mengerti. Tapi jaman kegelapan voltus-v segera berakhir ketika saya berumur 7 tahun. Saya terpesona setengah mati sama Ahmad Albar dan Ita Purnamasari. Rocker abis, dashyat banget, berlari-lari di atas panggung dengan suaranya yang serak serak mengagetkan apalagi dengan rambutnya yang ala spongebob, telah membuat saya terpana di depan tv. Saya selalu menunggu hari sabtu malem, dimana ketika acara “Aneka Ria Safari” ditayangkan di TVRI. Saya ngarep bgt melihat Ahmad Albar….apalagi Ita Purnamasari yang menyanyi sambil menari ular..”penari ular, digit ular..” begitu kira-kira syairnya..mm…yang saya inget sih begitu. Maka saya memutuskan ganti cita-cita, yep jadi penyanyi rock. Ibu saya tetep menyuruh saya ke gereja.
Ketika SMP, saya pengen jadi dokter sekaligus masuk ISI, belajar melukis. Ibu saya protes, “terus kalo ada pasien tapi kamu nggak mood, malah mood melukis gimana?, jangan nak, bahaya, bisa dituntut kamu!”. Maka sejak SMP saya saya memutuskan jadi pembalap aja. Kayaknya keren. Belum ada Alexandra Asmasoebrata ketika itu.
Tapi semuanya berubah ketika saya SMA. Benar-benar jaman kegelapan. Saat itu saya sudah mulai membaca Kafka, dan cita-cita saya hanya satu..saya pengen tetep jadi diri saya sendiri setiap bangun pagi..saya bener-bener nggak pengen jadi kecoak..sumpah!!. dan sampai hari ini, syukurlah cita-cita saya itu sudah dan masih tercapai.
Saya nggak inget kenapa saya bisa berkuliah di fakultas keguruan. Waktu pertama kali sadar saya memasuki fakultas keguruan, saya rajin mencari opini, bahwa lulusan FKIP nggak harus jadi guru kan?. Dan ibu saya tentu saja dengan sok bijak mengatakan “Yang jelas kamu nggak akan bisa jadi dokter”. Dan inilah saya, tiba-tiba saja tanpa saya sadari, ini tahun ketujuh saya mengajar. Dan parahnya saya mengajar level anak-anak yang mengerikan. Mereka adalah anak-anak balita. Biasanya respon orang-orang yang baru tau saya adalah seorang guru tk akan berkata “Duh senengnya, kumpul sama anak-anak yang lucu dan kerjaan yang nggak berat tapi gajinya lumayan gede”. Well untuk urusan gaji saya nggak bisa terlalu complain, tapi soal mereka LUCU dan kerjaan saya nggak BERAT, itu baru saya sangat KEBERATAN!!. Let me get this straight for you and please read this carefully, Anak-anak usia 2-5 tahun itu lebih ahli menyamar dari agent manapun. Memang iya sekilas mereka tampak imut dan menggemaskan, tapi lucukah mereka?? Wow wow wow…ini adalah mitos yang harus diluruskan.
Mari kita kenalan sama murid-murid saya. The Cartoon Kingdom. Setiap pagi, saya selalu menanyakan kepada mereka “What are we?” dan mereka dengan semangat menjawab “We are cartoon kingdom” saya mem-brainwash mereka dengan pertanyaan itu selama kurang lebih setahun ini. Biar mereka sadar, kalo mereka itu ajaib, kartun, memusingkan dan mereka telah membuat saya mengalami permanent brain damage. Di kelas saya ada Axel, Bryan, Bertrando, Steve, Ariel, Calvert, Ricky, Nelson, Darrell, Ryan, Hadley, Sharon, Gaby, Jovanka, Sweety, Aline, Jenny, Michelle, Jocelyn, Nana, Gwen dan Anabelle. Dari 22 anak itu, hanya 2% saja yang waras dan berlaku layaknya murid. 98% lainnya telah menghajar otak dan kewarasan saya dari hari ke hari.
Suatu ketika saya harus menjelaskan rain cycle kepada 22 murid saya itu. Dan menjelaskan konsep rain cycle yang rada ajaib itu kepada anak-anak umur 4 tahun bukanlah suatu hal yang sederhana. Saya sudah siapakan media, gambar dan jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah memilih kata-kata apa saja yang akan saya gunakan. Biar mereka mengerti konsep saya dengan mudah. Bahkan saya sudah memimpikan dan nyaris menghafalkan kata-kata saya, dan kapan waktu yang tepat untuk menunjukkan media rain cycle saya. Tibalah hari-h tersebut. Dengan menggebu saya menjelaskan topic tersebut..it’s all set. Saya berbicara selancar yang saya impikan, menunjukkan media tepat pada waktunya. 22 murid saya tampak tekun mendengarkan. Tiba-tiba Axel raised his hand. Saya seneng banget, bayangkan, saya telah memotivasi anak umur 4 tahun untuk bertanya tentang rain cycle. Saya lebih cool dari Ki Hajar Dewantoro sekalipun. Saya pun berkata “Yes Axel?” Axel lalu mengernyitkan dahinya dan berkata “What are u doing?” blarr…. Saya lemas…saya lansung terduduk dan menarik nafas dalam-dalam seraya memikirkan pertanyaan Axel, he’s absolutely correct, what am I doing here anyway?. Sejak itu saya belajar 1 hal, jangan pernah mengajarkan rain cycle kepada anak-anak umur 4 tahun. Saya pun memutuskan untuk tidak meneruskan penjelasan saya tentang rain cycle. Dan mereka tiba-tiba melompat dari kursinya dan menari-nari. Gembel.
Nelson murid saya yang tergila-gila pada figurine, selalu berteriak “Hayoooo..” dengan mukanya yang penuh kemenangan setiap dia memergoki temannya melanggar perarturan kelas. Dan teman2nya sekelas membalasnya dengan berkata “Hayoooo..” bersama-sama setiap kali Nelson yang melanggar. Respon Nelson sungguh aneh, dia hanya berkacak pinggang marah dan berteriak keras-keras “Tidak hayo!”. Buat Nelson makan >
Ricky murid saya yang lain sangat emosional. Dia lebih marah daripada saya ketika teman-temannya rame. Dia pernah membuat Jovanka trauma dan tidak mau sekolah 3 hari berturut-turut karena diancam Ricky akan dipindahkan ke kebun binatang kalo Jovanka rame terus. Pernah pada suatu hari murid-murid saya rame banget. Karena capek saya ikutan main sama Nelson dan Steve. Tiba-tiba saja, Ricky membanting kursinya dan berteriak “Semuanya pindah ke pasar saja”, sumpah detik itu saya pun takut padanya. Saya takut bakal dipindah ke pasar juga. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa sayalah gurunya dan Ricky adalah murid saya.
Sweety, punya keanehan yang complex. Dia hobi menari balet di depan kelas tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, hobi mengaku-ngaku kepada seisi kelas bahwa dia good girl. She always said like this “Sweet is good girl ya, otherwise mommy will be angry at you ya”. Lah?? Yang lebih cool, Sweety hobby mengangkat telpon saya.Setiap kali handphone saya berbunyi, dia akan berlari lincah dan menjawabnya “Hello, is this Mr. Zookeeper?, Nelson is handsome ya, but let us put him to the zoo instead”. Saya yakin siapapun yang menerima telponnya juga terkena syndrome brain damage.
Sweety, Gaby dan Jovanka lebih aneh lagi bila mereka berkolaborasi. Setiap kali saya bertanya, dan salah satu dari ketiga wanita cilik jahanam itu bisa menjawabnya, maka mereka langsung akan membentuk lingkaran dan menari-nari sambil berkata “We are Dalmatian, we are Dalmatian” Gosh…! Ntah apa hubungannya Dalmatian dengan kemampuan mereka menjawab pertanyaan saya. Sumpah saya nggak mengerti logika mereka. Sekolahkah para Dalmatian itu di alam mereka? Ntahlah, saya juga nggak tau…
Sharon, murid saya yang mungil dan cantik itu ternyata sangat “Cinta Laura”. Dia sangat pintar dan sekaligus sangat tidak normal. Bagi dia hanya ada satu cowok di hiduppnya yg baru 4 tahun itu. Dan cowok yang akhirnya depressi itu bernama Bertrando. Bertrando sangat menarik unutk anak-anak usianya. Dia ganteng, keren dan tau bagaimana tampil keren. Sharon tergila-gila kepadanya. Si Sharon ini, kalo bicara sangat bule. Tapi anehnya dia nggak punya kesulitan membaca, Cuma..dia punya kesulitan melafalkan. Ketika saya menuliskan kata “hati” di white board, Sharon lsg saja berteriak “Khaty”. Ketika saya nulis “bola”, Sharon membacanya “bouwla”. Saya mendatanginya dan berkata, “Sharon, dengerin miss, itu bacanya booolaaaa” saya ucapkan “b” dengan tegas. Dia melihat saya sebentar dan berkata, “Yes I know, itu bacanya bouwla”, “bola”, “bouwla”, “bola”, “bouwla”, ahh whatever deh saya separo berharap dia punya AKA -47 di tasnya dan menembakkanya tepat di dahi saya. Mungkin dia berharap hal yang sama..Bertrando berpendapat bahwa Sharon cantik, tetapi ada yang salah dengan dirinya. Sharon terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jawaban yang membuat Bertrando tersipu sekaligus ingin menghajarnya dengan AKA-47 yang tadi. Contohnya ketika saya tanya hari apakah ini, maka Sharon akan menjawabnya “Wednesday and Bertrando is handsome”. Kadang Sharon dan Sweety berdialog dengan ajaibnya. Ada satu dialog yang saya tulis dan saya laporkan ke ibunya…
Sweety : Listen to me ya, be nice or mommy will be angry ya.. (sweety ini selalu menggunakan kata ya di akhir kalimatnya.
Sharon : I don’t know your mommy
Sweety : My mommy is going to the zoo ya..you will come too ya
Sharon : Zoo is far and Bertrando is handsome, stop talking.
Murid-murid saya memang absurd. Bryan agak porno. Setiap jam 9 pagi dia akan menatap dada saya dengan tajam dan mulai bergumam “susu…susu..susu..” dan bila saya cuekin, dia akan berteriak kencang “SUSUUUUUUUUUUUU..” dan bila itu terjadi, maka saya harus mengambil tasnya dan menyerahkan botol susu buat dia. Saya jadi heran..apakah dada saya mirip botol susu ataukah memang berisi dan memancing selera? Saya berharap yang terakhir.
Axel yang hobby menginterupsi penjelasan saya dengan kata-kata “Miss, sebentar, aku ada usul”, ketika saya Tanya apa usulnya, dia akan meletakkan telunjuk di pelipis kananya seolah-olah berpikir keras dan berkata, “Mmm..aku lupa semuanya”…Ricky yang hobby marah-marah dan setengah saya takuti, Nelson yang lebih suka mencium bibir saya dan tidur-tiduran di pangkuan saya daripada mendengarkan siapapun ( yeah I know he’s a pervert), Sweety, Gaby, Jovanka yang tiap hari membuat saya depresi dan kepikiran Dalmatian, Calvert dan Darrell yang hobby membawa toy gun super gede ke kelas dan menggunakannya untuk main kuda-kudaan. Ryan yang selalu berhalusinansi bahwa kelas kita adalah kebun binatang, Hadley mungil yang selalu menghardik temannya dengan kata-kata yang aneh “dong-dong, kepala kosong!!”, Jennifer yang hobi ngupil dan memakan upilnya di depan saya dan murid-murid saya yang lainnya dengan ke gilaan mereka masing-masing ternyata bisa saya rindukan setengah mati dalam liburan ini.
Kegilaan mereka adalah candu buat saya. Dan saya mencintai mereka sepenuh hati saya. Kata teman-teman saya, guru akan mengimpartasi murid-muridnya..jadi mereka sudah gila sejak awal ato saya yang sebenernya membuat mereka seperti ini? Ntahlah..saya mau tidur dan memimpikan Dalmatian pintar yang bersekolah….