Saya Pengen Punya Gajah

Saya pengen punya gajah kecil. Bukan boneka gajah, tapi gajah beneran. Yang perlu dikasih makan dan bisa pub juga. Yang bisa tumbuh lebih gede dari kamar saya. Call me insane, but that’s true, I really want to have a baby elephant. Nanti kalo saya punya bayi gajah betulan akan saya kasih nama dolphin. Pasti seru memelihara gajah yang krisis identitas. Saya sendiri sebenernya nggak begitu comprehend dengan perasaan saya. Kenapa saya pengen gajah…mungkin saya menuliskannya untuk membantu diri saya sendiri mengenali emosi saya…

Saya seseorang yang begitu complex. Begitu banyak rasa yang kadang tak bernama yang berseliweran di hati saya. Begitu banyak ide yang lalu lalang sehingga kadang saya tersesat dalam kepala saya sendiri. Begitu sering saya terisolasi karena saya sendiri nggak tahu cara mengungkapkan perasaan yang sedang saya rasakan. Jangankan diungkapkan, dinamai saja pasti membutuhkan proses yang ruwet. Dan ketika saya merasa tersesat dan terisolasi, maka bayangan dolphin si gajah kecil selalu hadir di kepala saya. Dengan belalainya yang menyemprotkan air kemana-mana. Melihatnya dalam benak saya memberikan saya ketenangan…

Ketika saya kecil..saya banyak diam dan didiamkan oleh orang-orang sekitar saya. Saya nggak keberatan. Ketika itu saya punya dunia dongeng sendiri di kepala saya. Lagian saya dibesarkan dalam keluarga yang multi culture, dan sedikit melelahkan untuk mengikuti ritme keluarga yang kadang-kadang berubah adat setiap sekian detik. Ketika kecil saya seringkali bingung manakah yang lebih baik, menumpahkan kekesalan secara semena-mena ataukah belajar menahan emosi dengan sekuat hati? Mengeluarkan pendapat dengan resiko orang lain terluka, atau menata kata meski terkadang maksud hati nggak tersampaikan? Ketika budaya barat dan timur beradu di rumah dan saya dibiarkan tanpa penjelasan, maka saya menjadi malas untuk peduli dan tersesatlah saya di dunia dongeng….

Saya harus jujur mengatakan bahwa saya belajar nilai-nilai kehidupan bukan dari rumah saya. Orang tua saya cukup praktis dan kami sekeluarga gagap secara verbal dalam berkomunikasi. Jadilah saya dibesarkan oleh lingkungan. Sejak saya kecil saya membiasakan diri menganalisa semua kelakuan saya. Misalnya ketika bola saya direbut oleh sepupu saya, dan dilemparkan ke genteng rumah, saya bukannya menangis malah menganalisa; apa yang terjadi?, kenapa seseorang suka menyakiti?, kenapa orang lain tidak suka melihat kita senang? Dan apa salah saya dan bola saya? Belum juga dapat jawabannya sepupu saya sudah berkata “Dasar anak aneh, diem aja bolanya direbut” lalu dia lari begitu saja dari hadapan saya…padahal saya masih kebingungan merangkum….mungkin sebab itulah saya menjadi guru. Karena saya sejak kecil sering tidak dipahami..dan saya ingin membayar itu semua kepada murid-murid saya. Karena saya tau, apa yang kira-kira mereka rasakan. Dan saya tahun rasanya disalah mengertikan oleh orang-orang sekitar saya.

Lalu ada apa dengan gajah? Gajah mampu tidur sambil berdiri- dan saya nggak. Punya memori yang sangat kuat- dan saya nggak sanggup mengingat detail. They can run 24mph for short distances- dan saya bahkan nggak mampu lari dari keruwetan di kepala saya. Elephant is everything that I am not. They were strong and almighty and me? Well..i’m just a small particle that try to land its feet off the ground. Kesamaan saya dan gajah Cuma satu….our biggest enemy is men. Yep saya nggak bagus dalam kerja tim. Terlalu banyak keruwetan yang harus saya bereskan dalam sebuah tim. Apalagi dengan saya menjadi leadernya. Padahal saya orang yang paling bego kalo berurusan dengan masalah hati. Saya sering nggak ngeh ketika anak buah saya nggak enak ati. Ato bahkan sering kagum kenapa mereka bisa nggak enak ati dengan masalah-masalah yang konyol dan sepele. Satu anak buah saya pernah meng-sms saya jam 11 malem, dengan bahasa yang formal bahwa dia tidak terima dengan kelakuan teman-teman satu tim yang menyembunyikan worksheet-nya. Padahal dia kalo becanda malah sering lebih gila lagi. Dan anehnya dia bilang kalo kita harusnya berkaca dulu sebelum melakukan sesuatu kepada yang lain. Saya jadi heran, tidakkah dia sendiri punya hati untuk berkaca? Bahwa dia sering lebih biadab ketika becanda? Da kenapa masalah sepele membuat hatinya kacau? Hal-hal seperti ini yang saya paling males. Kalau disuruh memilih, saya akan jauh lebih senang bekerja sendiri daripada di dalam tim. Sayangnya saya dan gajah..we live in herds..we can’t run from it..jadilah saya dan gajah harus menyesuaikan diri…

Saya bersyukur sekali punya kekasih yang luar biasa. Dengan dia saya bisa menjadi diri saya utuh. Diri saya yang kadang tersesat dalam kepala saya sendiri, dan ketika saya menemukan jalan pulang, saya menemukannya menunggu sambil mengulurkan tangan. Dia paham dengan gajah saya dan dia bilang saya juga bisa jadi strong dengan cara saya sendiri. Bahwa dunia nyata bisa juga buat tempat memijakkan kaki. Bahwa saya harus mereduksi cara kerja hati saya sehingga tidak lagi apatis. Namun dia nggak keberatan ketika kami menikah nanti, saya akan memelihara gajah. Dia hanya minta bayi kembar tiga. Dan sekarang baru sadar permintaannya bersayap. Kalo saya punya bayi kembar tiga, mana sempat saya kasih makan gajah?

Comments (2) »

A Tribute to My Uncle

Hari ini, tepat setahun yang lalu, sepupu saya yang masih berumur 14 tahun, menemukan ayahnya tergantung di bagian atas rumah mereka. Dia hanya bisa termangu melihat ayahnya seperti itu sebelum akhirnya sanggup berteriak minta tolong. Saya nggak bisa membayangkan apa yang ada di benaknya. Saya nggak sanggup membayangkan dia mencerna apa yang baru saja dia lihat. Trauma apa yang akan dihadapinya di hidupnya kelak. And he scared me out of shit! Karena ternyata sampai pada hari ini, dia masih seperti itu. Seperti saat dia menemukan ayahnya tergantung. Plain and emotionless. He didn’t even cry from that day. I guess the sight he had seen, had dried his soul out and it shut his emotion button down. Dan ketika saya kakaknya, gagal menjangkaunya, saya merasa berdosa sekali…

            Paman saya adalah adik terkecil dari ayah saya. Ayah saya yang separo kumpeni itu 8 bersaudara. Ayah saya anak kelima, paman saya anak ragil. He’s the best uncle I ever had. Sabar, gaul dan dari semua hal yang telah keluarga besar kami lewati, paman saya itulah seorang true comforter bagi seluruh keponakannya. Ketika kami harus kehilangan eggy, salah seorang sepupu yang menjadi korban tabrak lari, paman saya inilah yang rajin mensupport kami, di barisan para sepupu, untuk tidak menjadi terlalu down. Ketika paman saya yang lain mesti dirawat di ICU dan dalam keadaan kritis, paman saya ini berkata, “Udah jangan down dulu, bisa aja malah om duluan yang berangkat, kan nggak ada yang tau kapan kita dipanggil”. Baru saya sadar sekarang, he set everything up long way before he did it. Nobody knows when our time comes. But shit! He knew it. He set it all up.

            Saya inget sekali ketika pagi itu ayah saya menerima kabar tentang adiknya yang baru saja gantung diri lewat telpon. Beliau yang baru saja bangun tidur mendadak termangu dengan pesawat telpon di telinganya. Lemas. Tak sanggup bicara. Dan setelah 5 menit ayah saya berbisik ke telingan ibu saya, yang langsung kalap dan menangis. Adik saya walau dengan bingung dan masih nggak comprehend (well..we all did at that time) tiba-tiba harus menjadi supir bagi ayah saya dan paman saya yang lain yang tiba-tiba kehilangan keahlian mengemudi. Mereka baru saja kehilangan adik bungsu mereka. Dengan cara yang tidak pernah kami bayangkan. Saya mengerti luka mereka. Saya pun terluka kok…

            Why in the world did my uncle commit a suicide? He left us a note, and I know he had some serious problems on his marriage tapi tetep aja kita tidak pernah membayangkan dia senekat itu. Dan apakah problem rumah tangga beliau? Biar kami saja yang tahu. Yang jelas, paman saya gagal mengekspresikan dirinya selama pernikahannya. Dan saya baru ngeh, betapa kata-kata yang gagal terucap, terendap kembali ke bawah kulit dan suatu saat akan bertumbuh menjadi virus yang mematikan. Menggerogoti iman dan pikiran. Dan bila anda tak menemukan tempat berpegang yang sempurna, maka anda mungkin juga akan melihat tali tampar dan tiang jemuran sebagai bright idea…so please..for the sake of yourself, find a good grip. I did. And I rejoiced it completely…

            Keluarga besar kami bermasalah dengan sang istri dari mendiang paman saya. Mereka menganggap sang istrilah penyebab paman saya senekat ini. Saya mencoba lebih jernih. Saya nggak pernah punya masalah dengan tante saya ini. Apalagi rekening benci saya selalu kosong. Misalnya memang dia penyebab paman saya senekat itu pun, saya nggak mampu membencinya…para sepupu saya yang 18 orang itu pun berkubu-kubu. Ada yang memutuskan untuk tidak lagi mau berhubungan, ada yang masih coba untuk tetap simple. Tapi kenyataan bahwa saya punya dua adik sepupu, kedua anak paman saya, yang sampai mati pun, pertalian darah kami tidak akan dapat diingkari, membuat saya merasa berdosa bila saya sebagai kakak mereka, saya nggak mampu menjangkau mereka…apalagi if I turned my back from them..saya menyayangi mereka dan saya nggak mampu berbuat itu.

            Saya tahu, tante saya pun menderita atas kehilangan suaminya. Entah apapun yang telah dia lakukan, saya percaya she learnt her lesson. And it was not nice at all. Saya mencoba untuk menerangkan hal itu kepada ayah saya. Tapi beliau berkata, “Don’t u dare to tell me that, you have no idea how I feel, I’m the one who lost a brother”. Ups saya salah. Saya sadar, luka saya sangat berbeda dengan luka ayah saya..rumitnya hati dan perasaan..tapi bahkan ayah saya pun menangis, ketika 5 bulan kemudian, para sepupu saya main ke rumah (tanpa kehadiran mamanya tentu saja). Ayah saya melihat kembali adiknya dalam mata keponakannya..yang memang sepupu saya ini nyaris kembar dengan ayahnya..tapi saya sedih sekali…dia masih sangat tak terjangkau.

            Seminggu lalu Rico sepupu saya, anak paman saya ini tiba-tiba muncul di rumah. Setelah sekian lama saya tak melihatnya, tiba-tiba dia pop up begitu saja di rumah. Dan saya mesti kembali teriris..he’s still remain the same..firewall mode on. Lima menit sebelum dia pulang, tiba-tiba dia memandang saya dan berkata, “Kak, aku udah lama nggak ke makam papa” dan detik itu saya melihat ada titik menganga di tengah-tengah firewallnya. Dan saya tahu, bila saya menyerah sekarang, maka saya gagal menjalankan peran saya sebagai kakak…wish me luck then. Anyway what can I do best but being a person to talk to, ears to listen to and a person with the heart that care…

within the firewall battle,

at least that’s all I can do as a tribute to my uncle…

Comments (4) »

LIFEBOUY vs BODY SHOP

Wanita seringkali sangat tidak ekonomis. Ibu saya stress melihat saya yang konsumtif. Beliau seringkali menuturi saya, “Mbok ya kamu itu nabung, siapa tau tiba-tiba dilamar trus diajak nikah, kan bisa bikin kebaya yang keren”…saya biasanya cuek aja dan seringkali bilang, “Ntar deh ma, kalo mama pengen aku pake kebaya keren, ntar aku pacarin adjie notonegoro deh” emang sih dia nggak tertarik sama wanita, but for the sake of my mom and the gorgeous kebaya?? Mmm…dildo masih dijual di pasaran kan?? Hehehehe. But she’s right. Saya konsumtif dan tidak rajin menabung. But I’m not the only one..lots of other women do…

            Saya tergila-gila dengan toiletries. Doyan banget nyobain sabun cair, shampoo dan body lotion. Dan untuk itulah saya sangat konsumtif (selain beli buku tentu saja). Apalagi saya bekerja di lingkungan para wanita jahanam. Para guru muda yang seringkali menjadi walking and talking billboard. Yang seringkali memberi usul seperti, “Coba pake magnolia lotion-nya Mark and Spencer deh, seger banget aromanya” ato “Pake L’oranger nya L’occitane, bakal nempel terus baunya”. Karena tiap hari dengerin para billboard gembel itu dan memang saya doyan banget sama toiletries, maka bobolah pertahanan saya…dan saya pun dengan khilafnya mendaftarkan diri menjadi anggota..eng ing eng..The Body Shop People!

            Kenapa Body Shop? Karena menurut saya, Body Shop adalah kosmetik paling beradab, against animal testing (but they still produce white musk, gosh…and I’m totally in love with their musky products) and have a good program in recycle. Selain itu produk mereka juga bagus dan cocok buat saya. Yang nggak cocok Cuma satu..harganya lumayan mahal!. Saya sering liat di TV, gimana para pria tergoda oleh keharuman wanita yang memakai parfum tertentu, lalu si lelaki jatuh cinta dan they live happily everafter. Super bombastis. Ato gimana sang pria tampan, mati-matian berlari melawan arus tangga berjalan demi mendapatkan perhatian sang wanita dengan rambut indah tergerai…duhh..nyaris comical!. Semua iklan kosmetik menganjurkan bagaimana selayaknya wanita mesti tampil indah, sempurna demi mendapat perhatian pria pujaan. Dan begonya, saya separo mempercayainya. Tapi benarkah demikian?? Hehehehe mari telusuri kisah saya.

            Karena sering ganti-ganti shampoo, maka suatu hari kulit kepala saya kering dan small scalps were scattered everywhere. Paniklah saya. Ternyata shapoo anti ketombe yang saya pake nggak ampuh. Bisa gawat kalo pas kencan dan pasangan saya melihat rambut saya nggak beres gini. Big no deh..larilah saya ke Body Shop. Membeli sebotol Ginger Anti Dandruff Shampoo..yang harganya 10x lebih mahal dari shampoo clear saya. Yup, 99.000 buat shampoo seukuran 250ml memang lumayan mahal. But Body Shop memang dasyat! Sekali keramas aja, kulit kepala saya langsung sehat! (they should pay me for this!) apalagi aroma samar jahenya sangat menenangkan…(see..i’m mutating into a talking billboard, thanks to my office mates). Dengan khilafnya, selain ginger shampoo, saya juga membeli White Musk body mist, Shea Whip body lotion yang ketika ditotal, harganya membuat saya hamper tercekik hehehe, padahal di rumah saya masih punya Cranberry body Butter, 2 travel size Oceanus shower gel, Vanilla shower gel dan sekotak perfume series dari Body Shop. Itu belum ditambah beberapa lip balm juga. But I was happy and content. Saya berkhayal, pasti habis ini saya tampil bak princess di iklan-iklan kosmetik jahanam itu. My date mate, here I come…

            Sadar nggak, selama ini kita (terutama para wanita) seringkali berusaha menampilkan image yang terbaik buat pasangan kita, walo seringkali kita harus melepaskan sebagian ato bahkan semua identitas diri kita and we turned into stranger..even to ourself…gara-gara iklan tv, saya yang sangat cuek tiba-tiba menjadi paranoid dengan keadaan diri saya. Tiba-tiba self acceptance saya error. Saya merasa saya nggak akan menarik tanpa produk-produk tersebut..padahal kalo mau jujur, ketika kita jatuh cinta, ato at least merasa nyaman dengan seseorang pedulikah kita meski ternyata dia hanya mandi sekali sehari..(tahukah anda, cowok dan mandi itu dua hal yang nggak compatible?)…memang saya penggemar cowok wangi tapi bukan berarti itu adalah syarat utama saya untuk bersedia berkencan dengannya. Bukankah perasaan adalah urusan hati? Kalo pun saya penggemar cowok wangi, saya nggak begitu peduli kok dengan jenia wewangian apa yang dia gunakan. Contohnya temen kencan saya saat itu. Dia wangi (untungnya semua pria yang pernah saya kencani, wangi-wangi). Ketika saya sedang asik menikmati wangi tubuhnya (baca:memeluknya), iseng saya Tanya, “Pake parfum apa sih enak bgt?” dan dia dengan santai menjawab, “parfum apaan? Ini tadi aku mandi pake lifebuoy” see…saya yang saat itu padahal udah pake lotion Ice Musk-nya Boots, pake Musk Body Mist-nya Body Shop dan tentu saja keramas pake Ginger shampoo (yang tidak dikomentari apapun olehnya) end up in Lifebuoy’s aroma…dan sadarlah saya, dia menerima saya utuh bukan karena pengaruh Body Shop, Boots, Mark and Spencer ato L’occitane. He enjoyed me for what I am. He enjoyed the curves in me not the ginger or the musk in me dan nyatanya saya tetep enjoy dengan the goddamn lifebuoy-nya itu…kalo pun recently saya sering keluar sama seseorang yang memang wangi (and how I love his aroma), ternyata saya mengaguminya lebih karena dia fun and smart bukan karena aromanya.

            Fiuhhh…rasanya saya gemes dengan diri saya sendiri. Kenapa juga termakan iklan. But I do in love with body shop. Maka saya pun memutuskan, that I will keep on bright, for the sake of me..not for anyone else…kalo nanti ada seseorang yg rela berlari melawan arus escalator hanya untuk memberi saya bunga, then mungkin udah saatnya saya membeli sebagian saham the body shop J.

Comments (3) »

Reality Check

“Miss, miss look, I got a stamp on my hand from the girl that I don’t even know..” Jerit Sweety murid saya sambil memperlihatkan tangannya yang ber-stempel kelinci. “You got a stamp?” Tanya saya. “Yep” jawabnya dengan mata malaikat yang berbinar-binar Las Vegas. “From the girl THAT YOU DON’T EVEN KNOW???” gentian saya yang menjerit heran. Sweety menjawab, “Yes, the girl over there” katanya sembari menunjuk Nana murid saya yang lain, yang udah dari tadi bertampang jutek dan siap menelan Sweety bulat-bulat. Gubraks. Sweety murid saya yang udah hampir 6 bulan duduk semeja dengan Nana ternyata tidak pernah tau siapa nama temen semeja-nya itu. Nana jelas sebel. Saya heran. Dan Sweety cuek karena memang mungkin menderita apriori syndrome. (saya pengen menuduhnya punya masalah rumah tangga tapi kayaknya nggak mungkin yaa…). Belum juga sembuh dari heran, tiba-tiba Axel murid saya yang lain (yang tampaknya jenius..sayang hanya tampaknya) sudah di depan saya dan dia berkata keras, “Miss, miss, miss ada Celine Dion di kamar mandi” ujarnya sambil mengguncang-guncang bahu saya. “Apa??? Celine Dion?!!” Tanya saya. Gosh..how could a 4 year old boy like him, knows anything about Celine Dion anyway???. Ini ajaib sekali. Pertama dia tau tentang Celine Dion. Kedua, Celine Dion ada di kamar mandi sekolah kita??? Wah ajaibbbb….ngapain juga Celine Dion terbang jauh-jauh dari Canada hanya untuk pipis di kamar mandi sekolah tempat saya mengajar coba?, maka sekali lagi saya Tanya Axel, “Beneran ada Celine Dion?”, Axel seperti biasa, memegang-megang dagunya (untung bukan yang lain..) seolah-olah berpikir keras selama beberapa saat dan lalu berkata, “Hmm..aku pikir begitu..”. hebat. Sweety terkena apriory syndrome dan madness complex, Axel mengidap halusinasi tingkat tinggi..great and then what else??. Maka saya pun meniup peluit saya keras-keras dan murid-murid saya langsung diem dan memandang saya. Then I told them, “From now on, every 30 minutes, you have to ask yourself what I am doing here?” mereka bengong. Saya berkata lagi “Come on guys repeat after me, What-am-i-doing-here?” dan mereka pun seperti tersihir (that’s the great thing of being a teacher, at least you have some followers heehehhe) langsung berkata “what am I doing here?”. Good. Saya puas. Mereka semua harus melakukan reality check. For the sake of them and for the sake of my sanity…

            Reality check..pernahkah anda melakukannya? Saya harus sering-sering melakukannya. Karena kondisi pekerjaan saya saya tidak sehat bagi kejiwaan saya. Secara saya mengasuh murid-murid yang ntah ketika di kandungan mungkin telah dijampi-jampi. Apalagi saya seringkali “hilang” . pagi ini saya hilang lagi (apa yang saya alami ketika saya hilang pagi ini, akan saya ceritakan kapan-kapan). Padahal saya disuruh masak nasi sama ibu saya. Dan akibatnya..yep gosong dengan sukses. Bukan hanya gosong tapi dandangnya bolong long…huehehehehe. Geblek banget. Mau nggak mau saya ketawa aja lihat dandang ajaib itu. Untung aja ibu saya udah berangkat ke luar kota. Papa saya juga ketawa ngakak. Tapi anehnya beliau seneng banget malah, papa saya malah bilang, “Asyikk dapet pot baru” beliau pun langsung membersihkan dandang jahanam itu dan lalu sibuk berkutat dengan dang-pot (dandang and pot). Saya harus beli dandang baru dong di pasar. Ke pasarlah saya ( I hate pasar man!). muter-muter deh saya nyari dandang. Akhirnya ketemu. Stand kecil deket sama stand buah. Untung jauh dari stand daging yang bikin saya mual-mual. Satnd dandang deket dengan stand ibu penjual tahu. Di petak depannya ada stand penjual bumbu-bumbu dapur. Ibu penjual dandang sibuk mempromosikan dandangnya. Dan ibu-ibu penjual lainnya bisik-bisik sambil ngikik-ngkik ala kuntilanak. Lalu ibu penjual dandang bertanya pada saya, “manten baru ya mbak?” belum sempet saya menjawab, ibu penjual bumbu dapur langsung berteriak penuh kemenangan, “Wadon kan..” sialan mereka ternyata dari tadi menebak-nebak saya cowok ato cewek heheheheh. Lalu mereka dengan cueknya berkerumun ngeliatin saya. Ibu penjual tahu malah menyentuh wajah saya lalu bilang, “Manis gini kok, alus pipine, wadon tenan” gembellllllllllll…..reality check, what am I doing here? O iyah, beli dandang.

            Life is really a rollercoaster journey. If it gets down, just let yourself go, don’t hang on too much, or you’ll get hurt. Sit back, relax and enjoy the ride. Itu adalah kata-kata counselor di kantor saya. Bule ajaib yang selalu menganjurkan saya melakukan realitu check agar saya tetep waras. Dan he’s damn right. Life is roller coaster. Kalo anda belum tau, saya phobia susu. Melihat susu putih di gelas aja, bisa bikin saya nggak tidur semaleman. Dan saya tidak mengkonsumsi susu dengan warna apapun. Bahkan untuk kopi saya memilih yang menggunakan non-dairy creamer. Nah pada suatu hari. Lewat Mirc yang ajaib, saya kenal dengan seseorang. Dia punya EO sendiri. Dan pada suatu hari, dia menelpon saya dan meminta saya membantunya untuk membuat campaign plan bagi salah satu perusahaan susu yg terkemuka di negri kita ini yang menjadi client EO-nya. Saya diajak meeting pula dgn bos-susu. Si bos susu sibuk menerangkan bagan-bagan dan isi kepalanya tentang jenis campaign plan yang dia mau. Alasan saya mau membantu temen saya ini, pertamanya karena kita memang temen..dan he is…GORGEOUS!!! Saya nggak punya hati menolaknya (and FYI, he’s a lot cuter in…:-D huehehehe). Saya sudah menyelesaikan yg temen saya minta..tapi saya masih heran. Bisa-bisanya saya terlibat dalam bisnis susu..hiii…but anyway life is upside down. Penyusun oxford dictionary adalah orang yang terganggu jiwanya, penemu Polaroid, ternyata buta warna dan tahukah kalian kalo babi mengalami orgasmenya lebih dari 30 menit? ( saya tau fakta yang terakhir nggak nyambung, but don’t u want to be a pig on your next life??)…ngapain saya yang phobia susu terlibat dalam bisnis susu? Reality check..oh iyah, life is upside down dan temen EO saya gorgeous dan “jagoan” hehehehehe.

            Minggu lalu saya dan Novi temen kantor saya jalan ke mall. Disana kita bertemu Karen temen bule yang sekantor dengan kita juga. Si Karen ini untuk ukuran bule nggak cakep-cakep amat sih. Tapi pacarnya..yo oloh….guantenggggg!!!. orang Indonesia. Charming abis, pembawaan tenang, senyumnya manissss…*fiuhhh* saya dan Novi terbengong-bengong sembari menjabat tangannya. Akibatnya kita berdua nggak ngeh siapa nama cowoknya Karen…hari seninnya saya dan Novi berencana bilang ke Karen, “Hi Karen, would you like to re introduce us to your boyfriend again?”..reality check..what are we doing? O iyah, rasanya kalo kita bilang seperti itu pasti langsung digampar Karen lagian ternyata kerjaan kita masih buanyakkkk selain berharap nggak jelas kepada pacar orang lain hahahahahahha.

Comments (1) »

So give me coffee and tv….

Ibu saya sebel setengah mati dengan Prabowo. Yep, Prabowo yang mantan Danjen Kopassus itu, dan yang sekarang latah terjun ke politik dengan Gerindra-nya itu. Bukan gara-gara ulah Prabowo semasa beliau masih menjabat sebagai Danjen Kopassus yang membuat ibu saya sebal, tapi gara-gara slogan beliau di gerindra yang dengan cueknya berkata, “Belanjalah di pasar tradisional…” heck no…jatuh dari langitkah bapak yang satu ini? Saya ingat reaksi ibu saya ketika pertama kali melihat iklan gerindra. Ibu saya sedang menghitung uang bulanan untuk segera di pos-kan dalam tagihan-tagihan yang sudah menanti. Ibu saya spontan berhenti berhitung dang lansung menyumpah serapah, “Emang selama ini dia kira belanja dimana kita?, untung aja bisa ke pasar, lha mama belanjanya di rengkek”, rengkek adalah kumpulan dari para tukang mlijo, yang berkumpul di suatu tempat. Biasanya rengkek mulai rame ketika jam 9 pagi. Dan sekedar tips neh, harga di rengkek, sedikit lebih miring dibandingkan harga di pasar tradisional, tentu saja karena para mlijo ini sudah mulai keliling sejak dini hari, menjelang jam 9-10 pagi bahan belanjaan yang ditawarkan sudah tidak sesegar semula. Terus terang saya sendiri juga heran, kenapa juga bapak penghuni langit ini memilih untuk mengajak warga belanja ke pasar tradisional. Melekkah dia akan keadaan kita. Maksud saya, dari 200 juta rakyat bangsa ini, berapa persen sih yang mampu belanja mewah ke supermarket? Keluarga saya jelas bukan salah satunya…..

Banyak hal-hal yang terbalik, ganjil dan sebenernya kita tau, tapi hal-hal tersebut terjadi, dan kita membiarkannya malah menganggapnya sebagai sesuatu yang benar setelah beberapa lama…mantan kepsek saya (yang secara tiba-tiba diturunkan, dan saya langsung berjoget2 india mendengar kabar ini) jagoan dalam hal ini. Sebenarnya dia hanya kepsek sementara sementara kepsek asli saya sedang tugas belajar ke Singapore. But she acted as if she owned the school..geez..nah pada suatu hari, si kepsek sementara ini mengumpulkan para staffnya untuk memberitahukan apa yang dia sebut “kabar gembira”. Sekolah tempat saya mengajar kebetulan adalah sekolah berbasis agama. Nah tepat di sebelah tembok sekolah berdirilah sebuah langgar yang tentu saja akan ber-adzan ketika waktu-waktu shalat datang. Dan kepsek saya yang aneh ini selalu terganggu dengan suara adzan tersebut (permanent brain damage symptom). Pada suatu ketika langgar disebelah sekolah tidak lagi beradzan..usut punya usut ternyata bapak Haji pemilik langgar meninggal dunia..dan hal ini secara kejam (saya jadi mual…..) disebut sebagai kabar gembira oleh mantan kepsek ajaib penghuni kaki langit ini….saya nggak habis berpikir..kalau memang Tuhan mengajarkan kita saling mengasihi, bagaimana mungkin kita bergembira dalam penderitaan orang lain. Saya bukan orang yang religius. Nggak paham kitab suci dan nggak doyan pergi ke gereja. But at least saya mual dengan kelakuannya…gilanya, beberapa teman saya, yang ntah mengikuti paham aliran kepercayaan yang saya nggak ngerti, ikut mengamini hal tersebut dan bertepuk tangan..wedew…hal-hal seperti ini yang membuat saya jadi apriori..dan saya dianggap sebagai seseorang yang tidak cukup “beriman” kepada Tuhan saya. Saya sih nggak pusing. Hubungan saya dengan Tuhan sangat personal..dan saya tidak perlu dengan penilaian sesama saya. Biar Tuhan aja yang menilai. Lagian for your information, I believe that the devil can cite scripture for His purpose and I also know that those who love God, are not always the friends of their fellow-men…tetapi sekali lagi, keadaan-keadaan seperti ini seringkali terjadi. Dan lama-kelamaan hal ganjil seperti ini dianggap sebagai suatu kebenaran…tahukah kamu, bahwa kebenaran tak pernah tergantung kepada consensus??

Ingatkah kalian tentang cerita bahwa saya pernah begitu jatuh cinta kepada seseorang lelaki yang saya nilai sangat standar dibandingkan sekian lelaki dalam hidup saya?. Well anyway, catch up my previous blog to get to know it (hehehe, Iklan!). Faktanya ketika itu saya mencintainya. Dengan segala cinta yang saya punya. Saya rela menanggung sakit yang paling parah pun demi kelangsungan cinta kami berdua (ketika itu tentunya). Hubungan kami rumit. Complicated. Masalah beda keyakinan. Saya siap tempur, tapi dia tidak. Dan suatu ketika dia menelpon saya dan berkata, “I found another girl”…hancurlah saya. Saya ada di titik terendah. Hancur. Lebur dan nyaris berserakan….saya nggak bisa mengajar..banyak menangis…dan yang paling parah, setiap kali bangun pagi luka saya menganga..karena kesadaran pertama yang terbentuk setelah saya bangun adalah fakta, bahwa saya ditinggalkan…teman saya ada yang berkata, “Udah dith, relain aja, memang laki-laki itu begitu”. Buat saya things were not that simple. Ntah saya yang kuper ato udik, tapi saya merasa aneh. Bukankah laki-laki juga manusia yang notabene berhati juga? Saya paham betul bagaimana dia mencintai saya. Saya merasa aneh ketika perasaan sekuat itu bisa di cut off semudah kita memencet saklar rumah..nyala-mati-nyala-mati..rasanya kok nggak gitu yaa…tapi ternyata, saya mengenal beberapa laki-laki yang setengah manusia juga. Mereka dengan cueknya membuat seseorang wanita jatuh cinta..dan sedikit banyak mereka juga terlibat perasaan dengan wanita tersebut, lalu tiba-tiba mereka bilang udah nggak cinta lagi ketika menemukan padang rumput yang lebih hijau…gebleknya mereka berlindung dibawah statement “Biasa, kan kita laki-laki”..buat saya mereka bukan manusia..syukurlah mantan pacar saya masih manusia hehehehehe….

Things are getting weirds nowadays…semakin saya melihat, semakin saya mual..maka sekali lagi saya lega saya punya segerembolan murid-murid jahanam penggemar Dalmatian yang jauh dari kewarasan (tetapi kewarasan mereka membuat saya sober). Merekalah yang saya percaya selain matahari, hujan and good coffee..as blur say on this lyrics…

Do you feel like a chain store

Practically floored

One of many zeros

Kicked around bored

 

Your ears are full but you’re empty

Holding out your heart

To people who never really

Care who you are

 

Chorus:

So give me coffee and tv easily

I’ve seen so much, I’m going blind

and braindead virtually

Socialability is hard enough for me

Take me away from this big bad world

and agree to marry meßNgarep gitu hahahaha

 

 

Do you go to the country

It isn’t very far

There’s people there who will hurt you

cos of who you are

 

Your ears are full of their language

there’s wisdom there you’re sure

Till the words start slurring

And you can’t find the door

 

 

Comments (1) »

Marie in Snow White’s Story

For some unknown reasons, Sweety murid saya selalu memanggil Nelson dengan Melson. Setiap pagi mereka berdua menggeser kursinya di sebelah kanan dan kiri saya. Sehingga memang seperti ada 1 guru dan 2 asisten imbisil di depan kelas setiap hari. Anehnya 20 orang murid saya yang lain tidak melihat keanehan dengan pola duduk seperti ini. Mereka malah akan menyuruh-nyuruh Nelson dan Sweety untuk menggeser kursi mereka di sebelah saya kalau mereka berdua lupa. For some unknown reasons too, Nelson selalu memanggil Sweety dengan Tweety. Padahal Sweety tidak bersayap, tidak kuning dan tidak ber cip-cip ramai sepeti layaknya burung kenari. Biasanya mereka memulai hari dengan percakapan seperti ini,

Sweety : Melson, Melson listen to me ya..

Nelson : Ada apa Tweety?

Sweety : Hei, I’m not a bird ya!

Nelson : Ya Tweety, aku tau..

Terkadang saya “hilang” dalam percakapan mereka. Tiba-tiba saja suara mereka menjadi semakin kabur dan saya mendapati diri saya sendiri, wondering to my self kenapa saya kok belum berubah jadi Tasmanian devil dan murid-murid saya berubah menjadi tweety, Sylvester, bugs bunny dan tokoh-tokoh kartun yang lain, ato saya memikirkan kenapa saya ada. Untuk merekakah? Ato mungkin untuk tujuan lain yang sampai sekarang belum saya dapati.

Saya sering hilang. Dan itu bisa terjadi kapan saja. Saat mengajar, meeting dan yang paling sering saat ada doa di kantor. Too much ideas in my head, and they are all stuck and then I was lost, or maybe I choose to isolate my self..biasanya saya dapat disadarkan dengan diguncang-guncang, tapi Hadley murid saya paling tau bagaimana menyadarkan saya. Dia langsung menyambar mug kopi saya di meja dan menyodorkannya tepat di hidung saya. Lalu dia berkata “Kepala kosong” dan “Wham” saya kembali “ada”.

Komentar beberapa teman kantor berkata “Your students are so you”. Saya nggak ngeh dengan komentar mereka. Menurut mereka, hubungan saya dan murid-murid saya sangat tidak guru-murid, tapi lebih ke senior-junior. Teman, kakak kelas…menurut saya, saya mengenal murid-murid saya sebaik mereka mengenal saya. Itu saja. Dan kami damai dengan keadaan seperti ini. Tapi saya belum berdamai dengan diri saya. Saya “hilang” terlalu sering. Memang tidak begitu menganggu, karena saya ingat betul hal terakhir yang saya lakukan sebelum saya hilang, dan saya dapat melanjutkannya dengan presisi yang sempurna. Tapi saya menganggap, bahwa itu signal tubuh saya, dan mungkin alam sadar dan bawah sadar saya untuk berkata “Wake up stu, there are some problems”. Saya coba untuk mengacuhkannya. Dan migren saya kambuh dengan hebat. Tekanan darah saya anjlok dan hilanglah saya semakin sering…dan pagi itu, tepat setelah saya memanggil nama Michelle untuk diabsen, saya memutuskan untuk hanyut dalam hilang saya

Saya ada di ruangan kosong. Putih dan hampa. Saya duduk di sofa putih bersih and I was facing the giant monitor. And guess what, I was watching myself. Saya melihat semua dosa saya, semua amal saya, semua pengalaman sex saya, semua hal-hal yang memalukan dan yang paling membuat saya terpuruk. Saya merasakan kembali senang saya, sedih saya, mengecap semua airmata yang pernah saya keluarkan, dan menertawakan semua tawa dengan dosis yang lebih jahanam dari semua tawa saya. Saya jadi inget Onny. Teman saya itu sering bilang “nereka itu tempat kita duduk-duduk dan melihat film tentang diri kita diputar dan kita akan menyesalinya seumur hidup kita”. Saya sempet berpikir jangan-jangan saya sudah di neraka. Kalo iya, ternyata not so bad sih. Dan ketika film tersebut selesai, saya kok nggak menyesal ya? Lalu dimana problem saya? Saya malah merasa “lengkap”.

Saya masih duduk duduk di sofa  ketika saya mencium bau kopi yang kuat dan tiba-tiba saya sudah di kelas lagi dengan Hadley di pangkuan saya. Dan ketika saya sadar, Sweety sedang bercerita kepada teman-temannya. Dia membacakan cerita snow white. She opened up the first page and read loudly “This is Marie” saya spontan protest “No she’s not” dan Sweety menoleh ke saya dan berkata “She is in my story” dan WHAM, saya ada di sofa lagi. Dan kali ini ada big smiley icon on the giant monitor. “She is in my story” kata Sweety, dan di titik itu saya menemukan problem saya..saya care too much akhir-akhir ini. Saya berusaha melakonkan Snow White dalam cerita yang benar. Terlalu lelah melakukan details yang tidak akan habis. Terlalu peduli dengan semua dogma dan norma. Dan tubuh saya rebooting secara otomatis. Saya jengkel dengan Tuhan. Dengan segala dogma yang rumit dan saya sudah terlalu lelah memprotesNya. Di titik itulah tubuh saya rebooting. Dan saya tau saya bukan harus berdamai dengan Tuhan, tapi lebih kepada diri saya sendiri. Sekarang saya pun tau, saya bisa jadi marie dalam cerita snow white…maka saya pun melanjut hari saya dengan memanggil nama Nelson yang memang ada persis di bawah nama Michelle di buku absent saya.

Comments (1) »

Cartoon Kingdom

Apa cita-cita saya?? Ketika saya 6 tahun,kehidupan saya sepenuhnya dikuasai oleh Voltus-V. Lima jagoan kartun yang punya robot keren berwarna merah-putih-biru. Cool banget mereka itu dimata saya, maka dari situ saya bercita-cita menjadi salah satu anggota dari Voltus-V. ketika ibu saya bertanya, “Cita-citamu apa nak?”, saya pun akan dengan sepenuh hati dan binar-binar di mata menjawab “Jadi anggota voltus-v ma”. Dan ibu saya akan mengernyitkan dahinya. Beliau sama sekali nggak tau apa itu voltus-v. maka responnya biasanya begini, “Udah ke gereja belum kamu minggu ini?”. Respon yang tidak coherent. Mungkin ibu saya mengira voltus-v adalah sekte sesat ato apalah, saya juga nggak mengerti. Tapi jaman kegelapan voltus-v segera berakhir ketika saya berumur 7 tahun. Saya terpesona setengah mati sama Ahmad Albar dan Ita Purnamasari. Rocker abis, dashyat banget, berlari-lari di atas panggung dengan suaranya yang serak serak mengagetkan apalagi dengan rambutnya yang ala spongebob, telah membuat saya terpana di depan tv. Saya selalu menunggu hari sabtu malem, dimana ketika acara “Aneka Ria Safari” ditayangkan di TVRI. Saya ngarep bgt melihat Ahmad Albar….apalagi Ita Purnamasari yang menyanyi sambil menari ular..”penari ular, digit ular..” begitu kira-kira syairnya..mm…yang saya inget sih begitu. Maka saya memutuskan ganti cita-cita, yep jadi penyanyi rock. Ibu saya tetep menyuruh saya ke gereja.

Ketika SMP, saya pengen jadi dokter sekaligus masuk ISI, belajar melukis. Ibu saya protes, “terus kalo ada pasien tapi kamu nggak mood, malah mood melukis gimana?, jangan nak, bahaya, bisa dituntut kamu!”. Maka sejak SMP saya  saya memutuskan jadi pembalap aja. Kayaknya keren. Belum ada Alexandra Asmasoebrata ketika itu.

Tapi semuanya berubah ketika saya SMA. Benar-benar jaman kegelapan. Saat itu saya sudah mulai membaca Kafka, dan cita-cita saya hanya satu..saya pengen tetep jadi diri saya sendiri setiap bangun pagi..saya bener-bener nggak pengen jadi kecoak..sumpah!!. dan sampai hari ini, syukurlah cita-cita saya itu sudah dan masih tercapai.

Saya nggak inget kenapa saya bisa berkuliah di fakultas keguruan. Waktu pertama kali sadar saya memasuki fakultas keguruan, saya rajin mencari opini, bahwa lulusan FKIP nggak harus jadi guru kan?. Dan ibu saya tentu saja dengan sok bijak mengatakan “Yang jelas kamu nggak akan bisa jadi dokter”. Dan inilah saya, tiba-tiba saja tanpa saya sadari, ini tahun ketujuh saya mengajar. Dan parahnya saya mengajar level anak-anak yang mengerikan. Mereka adalah anak-anak balita. Biasanya respon orang-orang yang baru tau saya adalah seorang guru tk akan berkata “Duh senengnya, kumpul sama anak-anak yang lucu dan kerjaan yang nggak berat tapi gajinya lumayan gede”. Well untuk urusan gaji saya nggak bisa terlalu complain, tapi soal mereka LUCU dan kerjaan saya nggak BERAT, itu baru saya sangat KEBERATAN!!. Let me get this straight for you and please read this carefully, Anak-anak usia 2-5 tahun itu lebih ahli menyamar dari agent manapun. Memang iya sekilas mereka tampak imut dan menggemaskan, tapi lucukah mereka?? Wow  wow  wow…ini adalah mitos yang harus diluruskan.

Mari kita kenalan sama murid-murid saya. The Cartoon Kingdom. Setiap pagi, saya selalu menanyakan kepada mereka “What are we?” dan mereka dengan semangat menjawab “We are cartoon kingdom” saya mem-brainwash mereka dengan pertanyaan itu selama kurang lebih setahun ini. Biar mereka sadar, kalo mereka itu ajaib, kartun, memusingkan dan mereka telah membuat saya mengalami permanent brain damage. Di kelas saya ada Axel, Bryan, Bertrando, Steve, Ariel, Calvert, Ricky, Nelson, Darrell, Ryan, Hadley, Sharon, Gaby, Jovanka, Sweety, Aline, Jenny, Michelle, Jocelyn, Nana, Gwen dan Anabelle. Dari 22 anak itu, hanya 2% saja yang waras dan berlaku layaknya murid. 98% lainnya telah menghajar otak dan kewarasan saya dari hari ke hari.

Suatu ketika saya harus menjelaskan rain cycle kepada 22 murid saya itu. Dan menjelaskan konsep rain cycle yang rada ajaib itu kepada anak-anak umur 4 tahun bukanlah suatu hal yang sederhana. Saya sudah siapakan media, gambar dan jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah memilih kata-kata apa saja yang akan saya gunakan. Biar mereka mengerti konsep saya dengan mudah. Bahkan saya sudah memimpikan dan nyaris menghafalkan kata-kata saya, dan kapan waktu yang tepat untuk menunjukkan media rain cycle saya. Tibalah hari-h tersebut. Dengan menggebu saya menjelaskan topic tersebut..it’s all set. Saya berbicara selancar yang saya impikan, menunjukkan media tepat pada waktunya. 22 murid saya tampak tekun mendengarkan. Tiba-tiba Axel raised his hand. Saya seneng banget, bayangkan, saya telah memotivasi anak umur 4 tahun untuk bertanya tentang rain cycle. Saya lebih cool dari Ki Hajar Dewantoro sekalipun. Saya pun berkata “Yes Axel?” Axel lalu mengernyitkan dahinya dan berkata “What are u doing?” blarr…. Saya lemas…saya lansung terduduk dan menarik nafas dalam-dalam seraya memikirkan pertanyaan Axel, he’s absolutely correct, what am I doing here anyway?. Sejak itu saya belajar 1 hal, jangan pernah mengajarkan rain cycle kepada anak-anak umur 4 tahun. Saya pun memutuskan untuk tidak meneruskan penjelasan saya tentang rain cycle. Dan mereka tiba-tiba melompat dari kursinya dan menari-nari. Gembel.

Nelson murid saya yang tergila-gila pada figurine, selalu berteriak “Hayoooo..” dengan mukanya yang penuh kemenangan setiap dia memergoki temannya melanggar perarturan kelas. Dan teman2nya sekelas membalasnya dengan berkata “Hayoooo..” bersama-sama setiap kali Nelson yang melanggar. Respon Nelson sungguh aneh, dia hanya berkacak pinggang marah dan berteriak keras-keras “Tidak hayo!”. Buat Nelson makan >

Ricky murid saya yang lain sangat emosional. Dia lebih marah daripada saya ketika teman-temannya rame. Dia pernah membuat Jovanka trauma dan tidak mau sekolah 3 hari berturut-turut karena diancam Ricky akan dipindahkan ke kebun binatang kalo Jovanka rame terus. Pernah pada suatu hari murid-murid saya rame banget. Karena capek saya ikutan main sama Nelson dan Steve. Tiba-tiba saja, Ricky membanting kursinya dan berteriak “Semuanya pindah ke pasar saja”, sumpah detik itu saya pun takut padanya. Saya takut bakal dipindah ke pasar juga. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa sayalah gurunya dan Ricky adalah murid saya.

Sweety, punya keanehan yang complex. Dia hobi menari balet di depan kelas tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, hobi mengaku-ngaku kepada seisi kelas bahwa dia good girl. She always said like this “Sweet is good girl ya, otherwise mommy will be angry at you ya”. Lah?? Yang lebih cool, Sweety hobby  mengangkat telpon saya.Setiap kali handphone saya berbunyi, dia akan berlari lincah dan menjawabnya “Hello, is this Mr. Zookeeper?, Nelson is handsome ya, but let us put him to the zoo instead”. Saya yakin siapapun yang menerima telponnya juga terkena syndrome brain damage.

Sweety, Gaby dan Jovanka lebih aneh lagi bila mereka berkolaborasi. Setiap kali saya bertanya, dan salah satu dari ketiga wanita cilik jahanam itu bisa menjawabnya, maka mereka langsung akan membentuk lingkaran dan menari-nari sambil berkata “We are Dalmatian, we are Dalmatian” Gosh…! Ntah apa hubungannya Dalmatian dengan kemampuan mereka menjawab pertanyaan saya. Sumpah saya nggak mengerti logika mereka. Sekolahkah para Dalmatian itu di alam mereka? Ntahlah, saya juga nggak tau…

Sharon, murid saya yang mungil dan cantik itu ternyata sangat “Cinta Laura”. Dia sangat pintar dan sekaligus sangat tidak normal. Bagi dia hanya ada satu cowok di hiduppnya yg baru 4 tahun itu. Dan cowok yang akhirnya depressi itu bernama Bertrando. Bertrando sangat menarik unutk anak-anak usianya. Dia ganteng, keren dan tau bagaimana tampil keren. Sharon tergila-gila kepadanya. Si Sharon ini, kalo bicara sangat bule. Tapi anehnya dia nggak punya kesulitan membaca, Cuma..dia punya kesulitan melafalkan. Ketika saya menuliskan kata “hati” di white board, Sharon lsg saja berteriak “Khaty”. Ketika saya nulis “bola”, Sharon membacanya “bouwla”. Saya mendatanginya dan berkata, “Sharon, dengerin miss, itu bacanya booolaaaa” saya ucapkan “b” dengan tegas. Dia melihat saya sebentar dan berkata, “Yes I know, itu bacanya bouwla”, “bola”, “bouwla”, “bola”, “bouwla”, ahh whatever deh saya separo berharap dia punya AKA -47 di tasnya dan menembakkanya tepat di dahi saya. Mungkin dia berharap hal yang sama..Bertrando berpendapat bahwa Sharon cantik, tetapi ada yang salah dengan dirinya. Sharon terkadang menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan jawaban yang membuat Bertrando tersipu sekaligus ingin menghajarnya dengan AKA-47 yang tadi. Contohnya ketika saya tanya hari apakah ini, maka Sharon akan menjawabnya “Wednesday and Bertrando is handsome”. Kadang Sharon dan Sweety berdialog dengan ajaibnya. Ada satu dialog yang saya tulis dan saya laporkan ke ibunya…

Sweety : Listen to me ya, be nice or mommy will be angry ya.. (sweety ini selalu menggunakan kata ya di akhir kalimatnya.

Sharon : I don’t know your mommy

Sweety : My mommy is going to the zoo ya..you will come too ya

Sharon : Zoo is far and Bertrando is handsome, stop talking.

Murid-murid saya memang absurd. Bryan agak porno. Setiap jam 9 pagi dia akan menatap dada saya dengan tajam dan mulai bergumam “susu…susu..susu..” dan bila saya cuekin, dia akan berteriak kencang “SUSUUUUUUUUUUUU..” dan bila itu terjadi, maka saya harus mengambil tasnya dan menyerahkan botol susu buat dia. Saya jadi heran..apakah dada saya mirip botol susu ataukah memang berisi dan memancing selera? Saya berharap yang terakhir.

Axel yang hobby menginterupsi penjelasan saya dengan kata-kata “Miss, sebentar, aku ada usul”, ketika saya Tanya apa usulnya, dia akan meletakkan telunjuk di pelipis kananya seolah-olah berpikir keras dan berkata, “Mmm..aku lupa semuanya”…Ricky yang hobby marah-marah dan setengah saya takuti, Nelson yang lebih suka mencium bibir saya dan tidur-tiduran di pangkuan saya daripada mendengarkan siapapun ( yeah I know he’s a pervert), Sweety, Gaby, Jovanka yang tiap hari membuat saya depresi dan kepikiran Dalmatian, Calvert dan Darrell yang hobby membawa toy gun super gede ke kelas dan menggunakannya untuk main kuda-kudaan. Ryan yang selalu berhalusinansi bahwa kelas kita adalah kebun binatang, Hadley mungil yang selalu menghardik temannya dengan kata-kata yang aneh “dong-dong, kepala kosong!!”, Jennifer yang hobi ngupil dan memakan upilnya di depan saya dan murid-murid saya yang lainnya dengan ke gilaan mereka masing-masing ternyata bisa saya rindukan setengah mati dalam liburan ini.

Kegilaan mereka adalah candu buat saya. Dan saya mencintai mereka sepenuh hati saya. Kata teman-teman saya, guru akan mengimpartasi murid-muridnya..jadi mereka sudah gila sejak awal ato saya yang sebenernya membuat mereka seperti ini? Ntahlah..saya mau tidur dan memimpikan Dalmatian pintar yang bersekolah….

 

Comments (619) »

Saya dan MIRC

Anda pernah mampir ke Mirc? Penyedia jasa chat yang paling top di nusantara ini. Kenapa top? Karena disanalah anda bisa berinteraksi dengan orang-orang yang sama sekali tidak anda kenal. Orang-orang yang mungkin sedikit debil tapi akan memperkaya khazanah anda tentang bagaimana manusia dapat begitu berbeda, beragam, unik dan ajaib. Kalo selama ini anda memandang rendah Mirc, saya sarankan, mainlah dulu disana. Mampir sebentar dan blend in with the society. Jangan terlalu terlibat. Cukup “blend” yang kadarnya hanya basa-basi. Saya sendiri doyan kesana. Dengan nick yang dibuat agak rumit (biar bisa dijadikan bahan diskusi dengan partner chat), parkir nick dan menunggu mangsa yang masuk menyapa. Hahahaha, mereka seringkali tidak sadar bahwa mereka sedang dalam bahaya pencucian otak. Biasanya saya memakai nick btari_durga29. nick yang “not so popular” buat society disana. Kalo anda memakai nick ce_sexyxxx, misalnya, ditanggung akan ada puluhan pria menyapa dalam waktu semenit. Tapi btari_durga? Sepi peminat. Namun justru itulah nick yang akan membawa saya menemukan orang-orang yang special. Biasanya mereka yang menyapa sedikit mengerti siapa btari_durga dan biasanya mereka memiliki kapasitas pemikiran yang bagus. Seringkali kami mengobrolkan filosofi wayang. Lewat nick ini saya menemukan Sidh, teman bedah buku saya yang tidak hanya cerdas, tapi juga sedap dipandang mata. Saya juga menemukan Miko, gitaris handal (dan juga eye catching) yang terkadang perspektif hidupnya mencengangkan.dan lewat nick ini pula saya menemukan seorang kawan dari kalangan akademisi, yang suka sekali membuat analisa-analisa yang rumit untuk saya. Dia sedikit menuduh saya psikopat sebelum saya akhirnya meyakinkannya bahwa tidak ada tanah yang bisa digali untuk menyembunyikan mayat di sekitar rumah saya. Dia berkata “saya takut ketemu kamu langsung, ada dua hal yang saya takutkan, yang pertama, dengan fakta bahwa saya akan tertarik dengan kamu, dan yang kedua bila ternyata kamu seorang psikopat”. Anjrit..maki saya dalam hati. Belakangan dia mengaku bahwa saya tidak bisa memakai nick btari_durga lagi, karena dia telah mem-password nick tersebut. Sekarang jadi saya yang sedikit takut dengan dia. Tapi saya tentu tidak boleh emosi. Namanya juga virtual. Sah-sah saja orang mau menganggap bagaimana. Saya, sedapat mungkin akan menjadi pendengar yang baik dan tetap akan berargument pada hal-hal yang saya anggap menarik. Bila sedang iseng dan tidak ada kerjaan, saya memakai nick yang sedikit “mengundang” yaitu f_29. wah bila pakai nick itu, dalam hitungan menit, akan banyak pria yang menyapa. Bahasa mereka yang pertama adalah “hi, asl?” Maka saya jawab “29, f, sby” lalu saya akan balas bertanya “asl kamu?” maka biasanya para “debil” akan menjawab “

Surabaya

”. Wahai saudara, tidak tahukah anda bahwa ASL=Age, sex and Location?. Tapi mungkin inilah ciri khas orang-orang kita, seringkali tidak komplit dalam segala hal. Biasanya kalo mereka hanya menjawab

Surabaya

saja, saya akan lsg otomatis meng-klik tombol ignore. Yang menjawab lengkap biasanya saya ladeni sampai batas-batas tertentu. Setelah asl selesai, mereka akan menanyakan nama. Saya akan menjawab “Judith” sesuai dengan nama asli saya.

Para

debil gelombang kedua akan bertanya “beneran cewek nih, kok namanya Judith?”. Akan sangat menggelikan bila ada cowok bernama Judith. Judith diambil dari bahasa ibrani yang berarti “cantik” atau “dipuji2”. Cowok cantik akan sedikit menakutkan. Setelah saya memberi tahu arti nama saya, dan menjelaskan bahwa Judith itu nama perempuan, maka sekali lagi tombol ignore saya klik.setelah ASL dan nama, maka friendster account akan jadi sasaran berikutnya. Saya dengan senang hati memberikannya. Komentar regular yang saya terima adalah “kok rambutnya pendek?”. Saya sering heran sendiri, adakah yang salah dengan wanita berambut pendek? Secara saya sendiri tidak pernah heran dengan fenomena cowok berambut panjang tergerai indah ala oscar lawalata. Ternyata tanpa kita sadari, betapa berhasil guru TK dan didikan orang tua kita jaman dahulu. Doktrin mereka yang mengatakan bahwa cowok berambut pendek dan wanita berambut panjang terpancang kuat di benak kita. Meski modernisme telah merajalela, namun hal itu tidak merubah kita menjadi manusia dalam kemasan. Hidup dalam kotak kotak pikiran yang telah terpancang pagarnya sejak dahulu kala. Setelah puas bertanya tentang rambut saya yang pendek, biasanya mereka berkomentar “Kamu tomboy sekali ya?”. Mari saudara, saya kutipkan arti kata “tomboy” itu sendiri dari www.dictionary.com. “tom·boy /ˈtɒmˌbɔɪ’/ Pronunciation Key

–noun

an energetic, sometimes boisterous girl whose behavior and pursuits, esp. in games and sports, are considered more typical of boys than of girls.

[Origin: 1545–55; Tom + boy ]

See…?? Tomboy is not even an adjective. Dan perhatikanlah “makna” dari arti kata tomboy sebenarnya. An energetic, sometimes boisterous girl whose behavior and pursuit, esp. in games and sports, are considered more typical of boys than of girls. Itu artinya, kita tidak bisa menilai seseorang tomboy atau tidak, bila kita tidak/belum melihat sifat-sifat yang mengarah kesana pada diri seseorang. Artinya, kalau mereka at least belum pernah melihat saya bermain bola, tinju, menyupir truck, menggali sumur, darimana mereka bisa menilai saya tomboy atau tidak? Atau mungkin kita sudah terlalu terbiasa menilai seseorang dari kesan pertama saja? Padahal saya sangat feminism. Feminist sejati. Tapi bedanya saya practical. And being “boyishly” and being practical is a huge different. Saya memangkas pendek rambut saya karena:

  1. Rambut saya bila panjang akan keriting dan susah sekali diatur. Saya akan terlihat seperti sponge bob berambut lebat bila saya berambut panjang
  2. Struktur wajah saya terlihat matching dengan rambut pendek. Saya jadi terlihat lebih wanita dan lebih segar dibandingkan saya yang berambut panjang.
  3. Saya sangat practical. Dan Surabaya ini bloody hot. Saya hanya ingin menjadi praktis.

Jadi sebetulnya saya memotong rambut saya lebih kepada alasan estetika yang notabene sangat “femininm” dibandingkan dengan alasan bahwa saya tomboy, duh ini sangat terbalik sebetulnya. Tapi like it or not, sekali lagi saya hidup di dunia yang mayoritas. Dimana saya adalah kaum “minoritas”. Jadi saya sebetulnya nggak boleh terlalu dongkol juga. Cuma saya ingin lawan bicara saya jauh lebih open minded. Dan belum tentu seminggu sekali anda menemukan lawan bicara yang open minded di Mirc. Tapi saya tetep seneng. Bagaimanapun lawan bicara saya, saya akan belajar sesuatu darinya. Bagaimana manusia dapat begitu beragam orientasi sexualnya. Bagaimana mereka dapat begitu mudah menilai, bagaimana mereka dapat membuat kita ternganga-nganga dengan segala keajaiban mereka. Dan bagaimana kita semua belajar memahami begitu detailnya gusti…bila anda merasa anda sudah tahu segalanya tapi belum pernah mampir ke mirc…saya sarankan, mampirlah, blend in, then comment later. Mirc, the quickest way to learn the human behavior. Hehehehehe…..

Comments (12) »

Mind War

Waktu TK dulu saya punya teman sekelas yang namanya Angel. Alih-alih bertubuh mungil dan menggemaskan, Angel yang satu ini besar, item dan sangat galak. Sebanding dengan Xena the warrior. Angel sangat hobby berantem dan suka sekali menyuruh-nyuruh teman-teman sekelasnya. Dan satu lagi, dia juga hobby memukul. Nah pada suatu pagi yang damai, tanpa ada hujan tanpa ada petir, Angel membawa-bawa penggaris kayu ukuran 1 meter yang besar dan memukulkannya ke kepala saya. Dhuarrr!. Saya nggak menangis. Cuma bengong. Apa salah saya sampai saya dipukul. Tapi waktu itu saya takut sama Angel. Saya pun memutuskan untuk tutup mulut saja dan menghapus memori itu di kepala saya. Nggak ada yang tahu hal itu, sampai sekarang saya menuliskannya di blog ini. Sejak dipukul Angel mungkin fungsi otak saya berubah. Karena sejak saat itu, saya punya keahlian baru, “mind war”. Thanks to her. Saya rasa ketakutan saya terhadap Angel mengendap menjadi kemampuan yang agak ajaib. Karena takut, saya nggak berani membalas, tapi saya sering mengkhayalkan bila tiba-tiba si Xena itu jatuh terjerembab dan tertimpa kursi. Sering sekali saya mengkhayalkan hal tersebut, sampai pada suatu saat, dia kembali datang kepada saya. Saya ketakutan. Freeze to death, dan tanpa saya sadar khayalan saya yg jelek itu muncul, dan ajaibnya it happened just the way I imagined it. She fell down and suddenly a chair drop onto her head. She cried and cried and cried. I ran away…saya ketakutan setengah mati..duh Gusti what did I do….sejak saat itulah saya nggak berani lagi berkhayal yang aneh-aneh…saya kubur hal itu dalam-dalam..saya biarkan mengendap sampai dia muncul lagi ketika saya SMA. Waktu kelas 1 SMA saya punya teman namanya Tino. Dia sangat tertarik dengan hal-hal yang gaib. Dia bisa mematikan lampu tanpa menyentuhnya. Saya selalu merinding bila dekat dia…sialnya dia hobby duduk dekat saya. Dengan senyum yang dibuat secermelang mungkin, dia akan dengan PDnya menyapa “Hi dith, duduk sebelahmu ya” dan tanpa saya iyakan dia cuek aja duduk. Saya sebel setengah mati. Dan dia pun mulai bercerita tentang lelembut yang duduk di kursi belakang di sebelah saya..saya muak, saya pejamkan mata kuat-kuat, berharap lampu kelas akan mati dan bel berbunyi

lima

menit lebih cepat. Dan tiba-tiba plass..lampu neon kelas satu persatu mati dan bel berbunyi nyaring sekali…saya melongo “o-o”…am I mutant? Pikir saya…tapi sejak itu saya rasa saya this is cool..a ada dosen saya yang tiba-tiba bengong di depan ruang kuliah dan akhirnya ngeloyor pergi, ada juga senior saya yang nggak jadi marah-marah ketika saya terlambat di ospek kampus. Menyenangkan juga. Yang perlu dilakukan Cuma konsentrasi, mengirimkan “SMS” lewat gelombang otak dan bila orang yang dituju firewall-nya lebih rendah levelnya daripada SMS saya, maka it will work! Cool banget. Ibu saya nggak tahu hal ini. Menurut beliau saya sudah cukup freak. Gara-gara saya suka bertanya “ma, ini siapa yang disamping meja makan” ato “ma, tante yang ini temennya mama?” padahal menurut ibu saya, nggak ada siapa-siapa di ruangan itu kecuali saya dan beliau. Saya kebetulan peka dari kecil. Tapi ibu saya nggak percaya, sampai pada suatu hari sepupu beliau datang dari Bojonegoro.

Om

saya yang satu ini memang agak ajaib juga. Dia bercerita pada ibu saya tentang kepekaan saya (btw saya juga peka terhadap hal-hal yang lain, sentuhan dari lawan jenis misalnya hahahaha). Dan om saya ini juga yang mendeteksi saya. Suatu hari dia bilang “Nduk, jangan suka benci yah sama orang lain, kamu sering nyetrum soalnya” untunglah saya nggak pernah punya energi lebih untuk membenci. Ini another gift dari Gusti buat saya. Tidak bisa membenci. Dan om saya berpesan pada ibu saya, kalo saya  panas sedikit aja harus cepet-cepet dikasih obat, sebelum saya mengigau. Takutnya saya punya dendam terhadap seseorang dan ketika saya demam dan mengigau tanpa sadar, saya mengkhayalkan hal-hal yang jelek pada dia, ntar dia kena setrum lagi..wah kalo begitu hal ini tidak cool lagi…untunglah hal itu nggak pernah kejadian. Karena saya lebih seringmimisan drpd panas. Lagian rekening benci saya selalu kosong. Apakah mind war method ini berlaku dalam urusan

asmara

? Well..saya nggak tahu pasti tapi saya hampir selalu bisa mendapatkan target saya. Tapi nggak sepenuhnya lewat method ini. Laki-laki kadang gampang hang hanya dengan senyum manis dan belahan dada yang rendah. Apalagi ditambah beberapa taglines yang cerdas mereka bisa mudah dibekuk (ini berlaku untuk laki-laki yang cerdas juga tentunya). Tapi saya pernah punya pacar yang ntah kenapa, saya begitu jatuh hati padanya. Padahal dia laki-laki yang paling standart dari sekian laki-laki di hidup saya. But the fact is I’m madly in love with him. Cuma hubungan kami runyam. 3 tahun pacaran penuh putus sambung. Setiap kali putus, saya mencoba sekuat tenaga untuk rela, tapi khayalan saya akan bahagia dengan dia ternyata kuat. Dan seringkali hal itu diluar sadar saya. Maka seminggu setelah putus biasanya tiba-tiba dia datang ke kantor saya dengan muka bengong…dan bila bertemu, kami hanya mampu berpelukan tanpa kata-kata..saya tahu hal ini nggak bisa dibiarkan. Sekarang saya dalam tahap mereduksi daya khayal saya tentang dia, tentang kita. Dan percayakah anda, bahwa blog saya pun mengandung mind war method juga untuk para pembacanya?.

Ada

seorang lelaki yang impressed dengan blog saya. Akhirnya kita bertemu di rumah saya. Dan damn, he’s gorgeous! Dari pertama kali bertemu, ngobrol ngalur ngidul ( he’s a great discussion partner anyway), pikiran saya lebih banyak ke bibirnya. Saya berpikir “I should be able to kiss him before he left”. And we kissed. Hahahahaha. Life is funny sometime. We slipped ourselves intentionally. Saya senang, dia pintar berdiskusi, cerdas, ganteng dan “sarana rekreasi” yang menyenangkan. Dan bila hari ini saya menemukannya bersama wanita lain di suatu plaza ( dengan raut mukanya yang kaget), saya kembali tertawa terbahak-bahak yang saya tahu satu, si bapak womanizer ini firewall-nya cukup keren. Saya nggak berminat untuk berkomitmen dengan dia tapi saya sangat berminat menguji mind war saya. Apakah masih seheboh dulu atau sudah jadul. Kalaupun sudah jadul saya sudah cukup senang bisa mengenalnya. Mengenal sesama penderita ADD. So I think I just have to wait..hahahaha. (this is for u dear..;-))

Comments (4) »

Everybody is Normal…..

Pernahkah anda sebel karena pernah dianggap “tidak normal” oleh orang-orang sekitar anda? Saya sering mengalaminya. Tapi saya cukup tahu diri, kerena memang nyatanya kelakuan saya, dan konsep saya berpikir sering tidak sinkron dengan orang-orang kebanyakan. Lagipula, saya mempercayai kata-kata Freud. Menurut beliau, semua orang adalah orang gila, hanya saja kadar kegilaan setiap orang tentu saja tidak sama besarnya. Kalo anda tidak percaya, perhatikanlah orang-orang di sekitar anda, dan cermatilah mereka. Saya sudah melakukannya. Ketika saya kelas 5 SD, saya punya seorang teman sekelas yang saya lupa namanya. Dia cowok, pendiam dan tampak sangat normal. Dia juga cukup pandai tapi hanya satu kekurangannya. Dia suka buang air di celana. Hanya gara-gara malas ke kamar mandi yang memang jauh dari kelas, dia rela mengorbankan image-nya yang tanpa cacat menjadi imbisil ganda yang najis bombay di mata teman sekelas. Mencengangkan..saya sampai terkagum-kagum dibuatnya…Waktu saya kelas 3 SMP, ada seorang teman saya yang bernama Syaiful. Si Syaiful ini, setiap jam pelajaran matematika akan lari dari kelasnya. Biasanya dia lari ke kelas saya dan duduk disebelah saya. Lalu dia akan mulai bercerita, bahwa adiknya sudah akan naik kelas 2 SMA. Saya agak takjub dengan ceritanya. Masa kakaknya kelas 3 SMP eh adiknya udah mau naik kelas 2 SMA? Syaiful juga punya hobi pakai dasi pramuka setiap hari. Meski saat itu dia harus pakai baju olahraga, dia akan tetap memakai dasi pramukanya. Dan yang paling ajaib, dia selalu memarkir sepedanya di bawah tiang bendera di lapangan sekolah, saat semua sepeda yang lain terparkir rapi di samping sekolah. Saya pikir dia nyentrik, nyeni dan mungkin juga sangat cerdas (biasanya orang-orang cerdas suka punya kebiasaan-kebiasaan unik). Tapi sesaat sebelum ebtanas, saya mendapat kabar bahwa Syaiful harus dibawa ke RSJ menur karena semalam mengamuk hebat dirumahnya. Okelah kali saya tertipu. Syaiful memang sakit jiwa. Sampai sekarang mungkin dia masih dirawat di rumah sakit yang sama. Ketika saya SMA, saya punya teman yang tampak sangat religius dengan tampang arabnya. Namanya Husin. Dia teman sekelas saya ketika saya di kelas 1 SMA. Pertama kali mengenalnya, saya tentu saja mati-matian menjaga image saya. Dia arab ganteng. Pendiam dan mahal senyum. Wow menarik sekali pria ini. Paling banter saya hanya berani tersenyum sedikit ketika tidak sengaja bertatapan mata dengannya. Tapi pada suatu siang, Husin duduk di sebelah saya. Dengan cueknya dia sedang mengukir tangannya dengan cutter. Ada gambar rumah dan pohon yang dia buat. Tentu saja, darahnya menetes gila-gilaan. Saya bertanya “Sakit nggak sin?” dia menatap saya sebentar kemudian menggeleng mantab dan bilang “kamu mau coba, sini deh, nggak bakal sakit” ujarnya enteng sambil mencengkeram tangan saya. Ternyata sekolah pun dapat menjadi dead or alive situation bagi saya. Untung saja Husin nggak tega melukai saya. Sejak saat itu kita jadi akrab. Dia sering membawakan saya cicak yang ekornya dia patahkan untuk saya. Benar-benar fantastis. Onny teman saya yang lain punya kegilaan yang unik. Dia seorang selective mutism. Sangat mute terhadap keadaan tertentu. Khususnya dalam pelajaran aksakta. Setiap pelajaran eksakta, Onny yang tadinya bunyi secara verbal, akan mengasingkan dirinya di pojok ruangan dan mulai menggambar di buku teksnya sambil menggumam pada dirinya sendiri “Sekolah itu candu”. Begitu pelajaran tersebut selesai, dia akan tersenyum lebar dan mulai bunyi lagi. Meski bunyi yang dia hasilkan seringkali tidak penting seperti “Dith, aku takut hantu” ato “Dith, aku pengen pipis” ato hal-hal yang nggak penting lainnya. Saat saya menjadi mahasiswa, saya punya dosen yang sangat unik. Sangat cerdas. Beliau mengajar mata kuliah psycholinguistic. Saking cerdasnya, beliau hafal seluruh isi teks book sampai pada ke titik komanya. Cara dia mengajar juga menyegarkan karena seringkali diselingi humor-humor yang nggak jayus. Top abis. Tapi satu hal, jangan buat dia marah. Bila bapak yang satu ini dibuat marah, beliau tidak akan segan-segan meminta KTP mahasiswanya. KTP sodara-sodara! Dia memanggil mahasiswanya hanya dengan dua sebutan, yaitu Miss dan Mas. Devi, teman kuliah saya yang pembawaannya mirip cowok, beliau panggil Masmiss dan seorang teman kuliah saya yg meski cowok tapi rada kemayu, dipanggilnya Missmas. System yang efektif. Beliau juga malas menghapus whiteboard. Bila salah satu dari mahasiswanya tidak tanggap unutk menghapus whiteboard yang sudah penuh, beliau dengan cueknya akan melanjutkan mencatat di tembok ruang kuliah dengan board marker. Pernah sekali kita biarkan. Beliau dengan sukses mencatat di hampir separuh tembok sebelah white board. Jadilah kita dimarahi habis-habisan oleh kepala rumah tangga univesitas. Anda pernah gemes melihat anak-anak kecil yang cute?. Saya sering. Secara saya guru TK. Saya pernah punya murid yang namanya Harry. Super cute dan menggemaskan. Hari pertama sekolah, dia datang dan langsung mencium saya di kening. Gimana saya nggak jatuh hati?. Tapi di hari pertama itu, dia menolak untuk duduk semeja dengan teman-temannya. Dia lebih memilih duduk di karpet di pojokan kelas. Saya biarkan saja. Mungkin dia memang kurang bersosialisasi. Esoknya dia bertanya kepada saya, “Miss guru disini ada berapa?”. Saya jawab ada 26 termasuk saya. Lalu dia berkata lagi kalem, “Yang 25 kita goreng di minyak panas, pakai bumbu kecap dan jeruk nipis”. Whoa saya terkaget-kaget dibuatnya. Tapi itu belum seberapa. Pada hari-hari berikutnya, Harry bertingkah semakin aneh. Bila di sekolah kami menggunakan thematic learning, maka Harry juga mengaplikasi metode yang sama terhadap pencitraan dirinya. Saya akan lega bila dia mengambil tema “batu” untuk dirinya. Maka pada hari itu dia akan diam dan tidak bergerak seperti batu. Tapi kalo dia sudah memilih tema ayam, waduh, maka saya harus siap di komplain oleh para wali murid yang lain, karena Harry akan “mematuk-matuk” (baca:menggigiti) seluruh teman sekelasnya. Tapi yang paling serem bila dia memilih tema banteng, maka habislah saya diseruduk tepat di ulu hati. Tapi saya dan dia saling menemukan pengertian pada suatu titik yang sangat absurd. Ternyata..seteleh saya menemaninya untuk bertemu dengan sang psikiater di Singapore, sang psikiater mengemukakan fakta yang sedikit mencengangkan…saya dan Harry sama-sama terkena ADD. Attention Deficit Disorder. Dimana kepala kita berdua penuh dengan file, sehingga sering hang. Maka dari itu kita sering mengalami gangguan konsentrasi dan sering tidak focus terhadap suatu hal. Pantes saja kami berdua rukun. Sama-sama sakit ternyata. Ada juga Nelson murid saya yang lain. Bila ia tertawa, maka rasanya duni juga ikut tertawa. Saya jatuh hati pada pandangan pertama padanya. Tapi saya benar-benar nggak pernah membayangkan bila si Nelson tanpa Mandela ini sangat ajaib dan ganjil. Dia tidak hanya berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami, tetapi juga punya analogi yang aneh. Nelson tergila-gila pada figurine. Semakin kecil figurine-nya semakin sukalah dia. Dan dia punya banyak sekali figurine yang aneh-aneh bentuknya. Dan dia menyebut semua figurine-nya dengan sebutan “Ya Tuhan”. Wah Tuhan baru yang aneh…small, compact, tidak perlu disembah. Cukup diatur berbaris dan diajak ngobrol-ngobrol. Dengan bahasa yang ganjil pula. Saya suka ingin tahu konsep KeTuhanan dalam kepalanya. Tapi karena dia baru 3 tahun, maka saya paham bagaimana rumit cara kerja otaknya dan bagaimana sederhana, dia menyimpulkan semuanya. Saya banyak punya teman. Dan kebanyakan dari mereka berpenampilan dan berkelakuan normal. Cuma ketika saya mengenal mereka lebih dalam, wah ternyata memang kadar normal tidak bisa ditakar. Saya punya seorang teman pria yang profesinya sebagai perancang wardrobe (termasuk bra tentunya). Tampangnya sangat serius. Ketika pertama kali kenal, jiper juga saya. Tapi begitu ngobrol, dia mengemukakan tema yang sangat aneh. Dia berkata “Dith, pernah kebayang nggak, bila manusia akan menjadi mahluk sekunder dan flora atau fauna menjadi mahluk primer?”. Saya pernah membaca komik Calvin and Hobbes yang membahas tentang itu. Lucu juga. Dia kemudian berkata lagi, “Coba bayangkan, bila pohon duren menjadi penguasa, trus ada pohon duren yang memutuskan menikahi pohon duren lainnya, lalu mereka menggelar hajatan dengan mengundang lima ribu phon duren yang lain. Nah di undangan nikah mereka ditulis, dengan tidak mengurangi rasa hormat, mohon hadiah berupa manusia”. Sampai disini saya membayangkan, ganjil juga yaa??. Dia melanjutkan, “Lalu datanglah para tamu dengan membawa manusia (baca:kita) sebagai hadiah, para manusia itu diiket tangan,kakinya, dibungkus kado dan dikasih pita”. Seru. “Tibalah malam pertama, pasangan pohon duren dimabuk cinta itu, lalu membuka hadiahnya, mereka kagum atas hadiah mereka yang bertampang lucu-lucu, dan hadiah itu pun dipajang di sisi tempat tidur, tempat mereka bercinta”. Lalu teman saya bertanya, “gimana perasaanmu melihat pohon duren bercinta?”. Pertanyaan yang maha pelik…tapi jujur saya sih merasa curious, saya pengen tahu bentuk kelaminnya pohon duren hehehe. Sungguh, everybody is normal….till you get to know them…

Comments (7) »